Amerika Dinilai Jadi “Surga Pajak” Terbarunya Dunia

Posted on

Amerika Dinilai Jadi “Surga Pajak” Terbarunya Dunia

Smconsult – Delapan tahun yang lalu, Amerika berhasil memimpin upaya untuk dapat mengatasi masalahn yang tengah dihadapi oleh negara-negara yang ada di seluruh dunia. Tiap tahun, banyak orang yang berhasil mengelak dari membayar pajak pendapatan sehingga nilainya berubah menjadi 2.5 triliun dolar, ini merupakan jumlah yang sangat besar yang sebenanrnya dapat dipakai untuk membantu memerangi kemiskinan, serta membantu menurunkan tarif pajak untuk warga negara yang menaati hukum dan memperbaharui infrastruktur.

Akan tetapi, saat ini Amerika jadi salah satu dari tempat terbaik untuk kita menyembunyikan uang dari kewajiban bayar pajak, hal ini jadi upaya yang seharusnya dihapuskan oleh pemerintah Amerika.

Pada tahun 2009, di tengah maraknya defisi anggaran serta skandal penipuan pajak yang melibatkan bank Swiss-UBS AG juga kelompok negara maju dan berkembang yang kemudian dikenal sebagai G20 telah berhasil menyepakati perjanjian yakni mereka tidak akan lagi mentolerir jaringan supaya bisa menyembunyikan pajak dari perusahaan atau rekening rahasia yang sudah sejak sekain lama jadi tempat pengelakan pajak.

Lantas, setahun kemudian Amerika berhasil meloloskan “Foreign Account Tax Compliance Act” yang mewajibkan badna keuangan asing agar melaporkan identitas maupun asset pembayar pajak potensian dari Amerika ke Dinas Perpajakan Amerika.

Kurang Lebih Ada 100 Negara yang Mematuhi FATCA

Merasa khwatir dengna hilangnya akses di sistem keuangan Amerika, kurang lebih ada 100 negara termasuk negara yang selama ini dikenal “surga pajak” seperti Kepulauan Cayman dan Bermuda turut menyepakati dan mematuhi aturan tersebut.

Dan sebagai imbalannya, Amerika diharapkan dapat saling membagi data mengenai rekening pembayar pajak asing dari negara yang berhubungan. Akan tetapi, kongres menolak permohonan dari pemerintahan Obama yang telah disampaikan berulang kali untuk dapat melaksanakan perubahan yang dibutuhkan pada Undang-Undang Perpajakan.  Hasilnya, Departemen Keuangan tidak dapat memaksa sejumlah bank di Amerika untuk membantu memberikan dan mengungkapkan informasi termasuk informasi tentang saldo rekening dari nama pemilik bersangkutan.

Amerika dinilai telah gagal mengadopsi apa yang kita kenal sebagai “Common Reporting Standard” yakni sebuah kesepatan global yang mana ada lebih dari 100 negara yang otomatis akan saling membantu dalam memberikan data lebih banyak daripada yang diperlukan oleh FATCA.